Apa itu Era VUCA dan Era TUNA.?

Istilah VUCA pertama kali digunakan oleh US
Army pada dekade
90-an ketika terjadi pergolakan
di Afghanistan, Irak, dan Timur Tengah. Pada umumnya di era industri 1.0 hingga industri 3.0 semua
indikator persaingan dapat dipelajari dengan relatif mudah, namun di era industri 4.0 ini
hampir semua bidang bisnis berubah ke arah yang tak terduga sebelumnya. Faktor-faktor
keunggulan sebuah perusahaan yang dulu dapat didefiniskan dengan jelas dan baku, kini berubah
nyaris tanpa pola. Hari ini kita melakukan
strategi A dan berhasil, namun besok strategi itu sudah tidak sesuai lagi, begitu seterusnya. Dunia bisnis
seakan berada dalam situasi yang penuh gejolak (Volatile), tidak pasti (uncertaint), rumit (complex), dan tidak jelas (ambiguous).
Fenomena VUCA ini
mengingatkan kita pada kisah “burning frog” atau katak yang dimasukkan ke kuali
berisi air lalu dipanaskan. Seekor katak yang dimasukkan ke dalam kuali yang
berisi air panas ia akan spontan meresponnya dengan langsung melompat
keluar dari kuali itu untuk menyelamtkan diri. Ini berbeda jika seokor katak dimasukkan
ke dalam kuali yang berisi air dingin, ia akan merasa nyaman berada di dalamnya. Meski kemudian air di dalam kuali itu dipanaskan dan air berubah menjadi hangat,
si katak tetap nyaman dan tidak memberikan respon apa-apa, sampai kemudian
air mendidih dan si katak sudah tidak bisa melompat keluar karena dia sudah
mati terebus di dalam kuali. Analogi “burning frog” ini
menjadi gamaban pelaku bisnis yang tidak menyadari adanya
perubahan yang begitu cepat di luar dirinya. Ia tetap nyaman berada
di zonanya dan tidak mau berubah. Namun meskipun dia merasa
nyaman, sesungguhnya dia tidak sadar kalau dia sedang direbus dan sebentar
lagi bisnisnya mati.
Pengertian
VUCA
VUCA adalah akronim dari Volatolity
(gejolak), Uncertainty
(ketidakpastian), Complexity
(kerumitan), Ambiguity
(ketidakjelasan).
Terjemahan bebasnya adalah suatu
gejolak perubahan yang rumit yang penuh dengan ketidakpastian, dan ketidakjelasan. Dalam dunia bisnis
kondisi ini benar-benar nyata terjadi dalam satu dekade terakhir. Selama
ini persaingam bisnis dapat diidentifikasi dengan mudah. Indikator keunggulan dengan mudah diidentifikasi
melalui komparasi kualitas dan biaya. Peningakatan penjualan cukup memakai jurus
andalan dengan memperbanyak tenaga pemasaran dan jumlah pelanggan. Dulu kompetitor adalah mereka
yang bergerak di bidang yang sama
dengan kita. Perusahaan bersaing siang malam melawan mereka untuk bisa bertahan. Namun sekarang penentu
keberlangsungan bisnis tidak sesederhana itu. Analisis VUCA
Volatiiity
(Gejolak)
Volatility menggambarkan keadaan
dunia bisnis yang rentan dengan gejolak dan perubahan. Kondisi
volatile umumnya disebabkan oleh faktor politik dan isue global.
Sebagai contoh ketika pemerintah mengumumkan susunan kabinet, pasar langsung
bereaksi dengan naik atau turun harga saham dan nilai mata uang. Bahkan
ketika seorang kepala daerah mengumumkan kebijakan pembatasan sosial
untuk mencegah pandemi COVID-19, pasar pun
tanpa diduga langsung memberikan respon negative yang
berakibat pada naik-turunnya harga sejumlah komoditas. Gejolak-gejolak
seperti ini sangat mempengaruhi keberlangsungan bisnis dan harus
dapat diantisipasi dengan baik.
Uncertainty
(ketidakpastian)
Dunia bisnis juga
dilanda ketidakpastian (uncertainty) akibat perang dagang Amerika
dengan China. Masing-masing pihak sebagai dua negara paling berpengaruh
di dunia saat ini saling berebut pengaruh dengan cara-cara yang sulit untuk
diduga. China dengan inovasi-inovasi teknologi terbarunya dan didukung oleh
melimpahnya finansial berusaha menjadi market leader di semua lini bisnis. Sementara
Amerika sebagai negara yang lebih dahulu menjadi negara adikuasa berusaha
melawannya dengan kekuatan-kekuatan politik yang dimilikinya.
Complexity
(kerumitan)
Dunia bisnis juga
dilanda kompetisi yang semakin rumit (complex). Jika dahulu competitor
sangat mudah dikenali, kini competitor bisa datang dari mana saja, bahkan
dari mereka yang tidak bermain di lini bisnis yang sama. Dulu perusahaan travel
agent A sudah tentu akan menganggap pesaingnya adalah travel agent B, C,
atau D atau semua travel agent. Namun siapa sangka kalau sekarang mereka semua
nyaris mati bersama-sama oleh sebuah kekuatan disrupsi yang bernama online
travel agent. Ternyata pesaing dan musuh mereka bukan datang dari sesame
pemain travel agent, tapi perkembangan teknologi yang imanfaatkan oleh online travel
agent.
Ambiguity
(ketidakjelasan)
Ambiguity arti harfiahnya adalah sikap mendua,
tidak tegas, dan tidak jelas. Ini sering terjadi terhadap suatu kebijakan yang
seringkali tidak konsisten. Contoh yang sering terjadi adalah pemerintah
berulang kali menyatakan dukungannya untuk pengembangan industry dalam
negeri. Namun diwaktu bersamaan pemerintah juga membuka lebar-lebar
masuknya produk-produk asing, bahkan Sebagian diantaranya mendapatkan
pembebasan bea masuk. Hal semacam ini merupakan bentuk ambiguitas
kebijakan yang berdampak pada berlangsungnya industry dalam negeri.
Pengertian TUNA
Turbulent-Uncertain-Novel-Ambiguus (TUNA) adalah
akronim yang digunakan oleh Oxford University Executive Education
program dan bukannya VUCA yang lebih akrab (volatil, tidak
pasti, kompleks, ambigu). Ramirez dan Wilkinson (2016) telah membingkai istilah
TUNA (=Turbulensi, Ketidakpastian, Kebaruan dan Ambiguitas), menunjukkan bahwa kami telah
melampaui VUCA dalam hal meningkatnya ketidakpastian dan dinamika lingkungan
bisnis. Secara garis besarnya antara VUCA dan TUNA
adalah sama, yaitu dunia bisnis yang bergejolak, ketidakpastian Kompleksitas, dan Ambigu.
Oleh karena itu, berurusan dengan ketidakpastian dalam
berbagai bentuknya merupakan tantangan utama dan kompetensi inti bagi setiap
pemimpin yang akan maju. Meskipun ketidakpastian tidak hanya tentang risiko,
tetapi juga tentang peluang (Schoemaker 2012), perlu lebih memahami
dan mulai bermain permainan ketidakpastian dan mencari cara bagaimana
memenangkannya. Ini akan membutuhkan perubahan pola pikir (mis. merangkul dari
pada takut akan ketidakpastian), perubahan cara berpikir organisasi tentang
strategi, perencanaan strategi dan yang paling penting eksekusi strategi untuk menangani dan
menang dalam VUCA, TUNA atau hanya dunia yang lebih tidak pasti.
Faktor-faktor
Penyebab Munculnya VUCA & TUNA
Perkembangan
Teknologi
Perkembangan
teknologi telah mentransformasikan dunia bisnis sedemkian rupa. Dunia
bisnis yang dulu
vertikal, centralized, dan ekslusif kini berubah menjadi horizontal,
scattered, dan inklusif. Dampaknya konsumen mendapatkan akses informasi
yang seluas-luasnya dan semudah-mudahnya.
Dinamika Politik
Dinamika politik
juga menjadi penyebab penting dari munculnya era VUCA ini. Perekonomian
global tak bisa dilepaskan dari situasi politik dunia. Dulu ketika meletus
perang teluk, harga minyak melambung tinggi. Perekonomian semua negara
ramai-ramai menyesuaikan asumsi harga minyak dan nilai tukar mata uang.
Sosial Budaya
Sosial budaya
juga turut berpengaruh munculnya VUCA dalam dunia bisnis. Dahulu
orang ke mall untuk membeli barang-barang kebutuhan terutama sandang pangan.
Namun budaya masyarakat perlahan berubah. Orang pergi ke mall bukan lagi
untuk membeli sandang pangan melainkan lebih untuk mencari hiburan. Dengan
demikian pemilik mall harus mengubah strategi dan konsep mall nya agar sesuai
dengan perubahan budaya ini.
Isu Lingkungan
Isu lingkungan
banyak menimbulkan gejolak pada industri yang berbasis sumber daya
alam. Beberapa waktu lalu para pengusaha beramai-ramai masuk ke bisnis batu
bara. Permintaan pasar yang tinggi membuat bisnis ini sangat menjanjikan. Namun
tiba-tiba beberapa negara mengumumkan membatasi pembelian batu bara
dengan alasan tidak ramah lingkungan. Spontan permintaan menurun dan harga
batu bara juga ikut anjlok. Akibatnya banyak pengusaha merugi.
Pertumbuhan
Ekonomi
Pertumbuhan
ekonomi juga bisa menjadi faktor pemicu VUCA bagi dunia bisnis. Dulu
orang terbiasa bepergian jarak jauh menggunakan bus. Namun seiring dengan
membaiknya pendapatan masyarakat, moda angkutan jalan raya itu banyak
ditinggalkan. Orang beralih menggunakan pesawat terbang atau kereta api eksekutif
yang harganya tidak jauh berbeda dengan bus malam. Para perusahaan angkutan
bus pun dibuat kebingungan karena mereka ditinggalkan pelanggan.
Analisis VUCA vs VUCA
Bob Johansen, dalam bukunya
Leaders Make the Future: Ten New Leadership Skills for Uncertain World(San Fransisco, 2009)
mengatakan bahwa VUCA harus dilawan dengan VUCA yaitu : Vision,
Understanding, Clarity, Agility. Uraian VUCA vs VUCA
ini sebenarnya merupakan bagaimana mentransformasi diri
dari kondisi VUCA negatif (Volatile, Uncertaint, Complex, Ambiguous) menjadi VUCA
positif (Vision, Understand, Clarity, Agility). Perhatikan gambar di bawah ini:
Vision
Visi adalah cara
pandang perusahaan ke depan dalam membaca persaingan bisnis
yang ada. Perusahaan harus jelas apa yang akan diwujudkan nanti, kemana akan
dituju. Semakin kuat dan jelas visi sebuah perusahaan maka semakin kuat pula
visi itu akan memandu perusahaan dalam menghadapi perubahan yang terjadi
secara volatile.
Understanding
Pemahaman yang benar
atas apa yang sedang dihadapi merupakan kunci dalam mengambil
keputusan yang tepat. Ibarat seorang pilot yang tiba-tiba pesawatnya terguncang-guncang,
dia harus tahu apa yang sedang terjadi. Seorang pilot ibekali
dengan radar cuaca. Dari radar inilah pilot mengetahui apakah goncangan ini
hanya sesaat atau akan berlangsung lama. Apakah goncangan ini moderata atau
akan berubah menjadi severe dan heavy turbulence. Berbekal
pemahaman inilah
pilot akan mengambil keputusan apakah akan terus melaju sesuai jalur yang direncakan
atau perlu mengubah jalur dengan menaikkan atau menurunkan ketinggian.
Demikian halnya dengan CEO sebuah perusahaan, dia harus memiliki pemahaman
yang baik atas apa yang sedang terjadi saat ini dan kedepannya.
Clarity
Clarity (Kejelasan) dapat
diibaratkan seorang pilot yang hendak mendarat namun berada
dalam cuaca yang kurang bersahabat dan dengan jarak pandang yang terbatas.
Untuk bisa mendarat dengan selamat pilot harus bisa melihat runway bandara
dengan jelas (clear). Jika pilot nekat mendarat sementara belum mampu melihat
runway dengan jelas, maka besar kemungkinan pesawat akan mengalami overrun,
overshoot, atau undershoot dimana pesawat tidak akan mendarat sampai di
bandara dengan selamat.
Agility
Agility atau kelincahan / kelenturan adalah
kemampuan diri untuk menyesuaikan kondisi yang ada. Intinya kita harus adaptif dan
responsive dan tidak boleh kaku. Ketegasan memang diperlukan tapi tidak berarti
kaku. Tegas diperlukan dalam memegang prinsip, namun cara kita merespon
dinamika/gejolak harus luwes dan lincah.
Kesimpulan
Dari uraian tentang
fenomena VUCA dan TUNA di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
- Bahwa perubahan
yang terjadi dalam dunia bisnis saat ini berjalan sangat cepat dan
mudah berubah (volatility), tidak menentu (uncertainty), rumit (complexity), dan
penuh ketidakpastian (ambiguity).
- Penyebabnya sangat
beragam mulai dari perkembangan teknologi, dinamika politik,
sosial budaya, lingkungan hidup, dan pertumbuhan ekonomi.
- Fenomena ini tidak
cukup diatasi dengan pendekatan dan cara pandang lama namun
harus dengan cara pandang baru yang memperhitungkan semua komponen
VUCA tersebut.
- Solusi yang dapat
diambil untuk mengatasi fenomena VUCA ini adalah dengan VUCA
juga (VUCA vs VUCA) dimana Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity
diatasi
dengan Vision, Understanding, Clarity, dan Agility.
- Pada dasarnya VUCA dan TUNA adalah sama yaitu berbicara tentang dunia bisnis yang bergejolak, ketidakpastian Kompleksitas, dan Ambigu
Komentar
Posting Komentar